Unsur Interpretasi Citra

2 min read

Unsur Interpretasi Citra

Unsur Interpretasi Citra – Citra foto adalah suatu rupa atau gambaran yang merupakan hasil pemotretan suatu wilayah dari udara. Citra foto yang kemudian disebut foto udara direkam melalui kamera. Perekamannya secara serentak untuk satu lembar foto udara dan menggunakan spektrum tampak atau perluasannya. Citra foto juga memiliki unsur di dalamnya yang disebut dengan unsur interpretasi citra. Berikut unsur interpretasi citra.

1. Rona dan Warna

Rona adalah tingkat kecerahan atau kegelapan suatu objek yang terdapat pada citra. Terdapat beberapa faktor yang memengaruhi rona pada citra yaitu sebagai berikut.

a. Karakter Objek

Karakter objek yang memengaruhi rona antara lain sebagai berikut.

  • Permukaan kasar cenderung menimbulkan rona gelap pada citra karena sinar yang datang mengalami hamburan sehingga mengurangi pantulan sinarnya.
  • Warna objek yang gelap cenderung menghasilkan rona yang gelap.
  • Objek yang basah/lembab cenderung menghasilkan rona gelap.
  • Pantulan objek, misalnya perairan akan menghasilkan rona yang gelap. Adapun perbukitan kapur akan menghasilkan rona yang terang.

b. Bahan yang Digunakan

Bahan yang digunakan juga memengaruhi rona pada citra. Hal ini dikarenakan setiap film juga mempunyai kepekaan kualitas tersendiri.

c. Pemrosesan Emulsi

Pemrosesan emulsi dapat mengjasilkan cetakan dengan hasil redup (mat), setengah redup (semimat), dan cetakan gilap (glossy). Cetakan glossy menghasilkan rona yang cenderung terang, sebaliknya cetakan redup menghasilkan rona yang cenderung gelap.

d. Cuaca

Kondisi cuaca di atmosfer dapat menyebabkan citra terlibat memiliki rona yang terang atau gelap. Jika kondisi cuaca atmosfer sangat lembap dan berkabut akan menyebabkan rona pada citra cenderung gelap.

e. Letak Objek dan Waktu Pemotretan

Letak objek berkaitan dengan lintang dan bujur. Letak lintang menentukan besarnya sudut datang sinar matahari. Waktu pemotretan juga memengaruhi sudut datang sinar matahari. Waktu pemotretan pada siang hari cenderung akan menghasilkan rona yang lebih terang dibandingkan dengan pemotretan pada sore atau pagi hari.

2. Tekstur

Tektur adalah frekuensi perubahan rona pada citra. Biasanya dinyatakan dengan kasar, sedang, dan halus, misalnya hutan bertekstur kasar, belukar bertekstur sedang, dan semak bertekstur halus.

3. Bentuk

Bentuk merupakan gambar yang mudah dikenali. Objek yang sejenis di muka bumi memiliki bentuk yang sejenis pada citra. Sebagai contoh, gedung sekolah pada umumnya berbentuk huruf I, L, U atau persegi panjang, sedangkan gunung api berbentuk kerucut.

4. Ukuran

Ukuran adalah ciri objek berupa jarak, luas, tinggi lerang, dan volume. Ukuran objek pada citra berupa skala, contohnya lapangan sepak bola yang dicirikan oleh bentuk segi empat dengan ukuran yang tetap.

5. Pola atau Susunan Keruangan

Pola atau susunan keruangan merupakan ciri yang menandai objek yang sebagian besar bentukan manusia dan beberapa objek alamiah, contohnya pola aliran sungai yang menandai struktur geologi. Pola aliran trellis menandai struktur lipatan. Pemukiman transmigrasi dikenal dengan pola yang teratur yaitu ukuran rumah yang jaraknya seragam dan selalu menghadap ke jalan. Kebun karet, kebun kelapa dan kebun kopi mudah dibedakan dengan hutan atau vegetasi lainnya dengan polanya yang teratur, yaitu dari pola dan jerak tanamnya.

6. Situs

Situs merupakan letak suatu objek terhadap objek lain di sekitarnya, contohnya pemukiman pada umumnya memanjang di pinggir pantai, tanggul alam, atau di sepanjang tepi jalan. Persawahan banyak terdapat di daerah dataran rendah.

7. Bayangan

Bayangan yang terbentuk pada suatu objek sangat dipengaruhi oleh arah datangnya sinar matahari. Jika pemotretan dilakukan pada pagi hari, bayangan objek ada di sebelah barat. Jika pemotretan dilakukan pada siang hari, bayangan objek tidak tampak. Adapun jika pemotretan dilakukan pada sore hari, bayangan objek ada di sebelah timur.

Arah bayangan ini dapat digunakan untuk menentukan arah orientasi foto udara. Bayangan juga dapat menjadi kunci pengenalan yang penting dari beberapa objek yang justru dengan adanya banyangan menjadi lebih jelas. Sebagai contoh, cerobong asap dan menara tampak lebih jelas dengan adanya bayangan, begitu juga lereng yang terjal juga tampak jelas dengan adanya bayangan.

8. Asosiasi

Asosiasi merupakan keterkaitan antara objek yang satu dan objek yang lain. Tampilan suatu objek pada citra sering merupakan petunjuk bagi adanya objek yang lain karena adanya asosiasi, misalnya perkampungan biasanya dekat dengan jalan dan lahan perkarangan yang ditumbuhi tanaman.

Kesimpulannya, dalam mengenali objek pada foto udara atau pada citra lainnya, dianjurkan untuk tidak hanya menggunakan satu unsur interpretasi citra. Semakin ditambah jumlah unsur interpretasi citra yang digunakan, semakin menciutlingkupnya ke arah titik simpul tertentu.

Pengenalan dengan cara ini disebut konvergensi bukti (cerverging evidence / convergence of evidence). Konvergensi bukti ialah penggunaan beberapa unsur interpretasi citra sehingga lingkupnya menjadi semakin menyempit ke arah satu kesimpulan tertentu. Sekian dan semoga bermanfaat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *