Peninggalan Kerajaan Samudra Pasai

3 min read

Peninggalan Kerajaan Samudra Pasai

Peninggalan Kerajaan Samudra Pasai – Samudera Pasai adalah Kerajaan Islam pertama di Indonesia yang terletak di Aceh. Kerajaan ini didirikan oleh Merah Silu atau yang kemudian menggunakan gelar berbahasa Arab, Malikul Saleh, sekitar tahun 1267. Kerajaan ini dikunjungi oleh Ibnu Batutah dan Marco Polo.

Puncak kejayaan kesultanan Samudera Pasai ini berada pada masa sultan ketiga Samudera Pasai, Sultan Mahmud Malik Az-Zahir. Pada masa sultan ini Samudera pasai dikunjungi oleh penjelajah dan musafir Maroko yang bernama Ibnu Batutah. Menurut Ibnu Batutah, sultan ini adalah seorang yang sangat taat beragama Islam dan memeluk madzhab Syafii.

Pada masa pemerintahan sultan ini, Pasai menjadi pusat perdagangan di Asia Tenggara dan menggunakan koin emas sebagai mata uangnya. Banyak saudagar dari Arab, India, Iran dan China yang berdagang di Pasai. Banyak saudagar ini yang beragama Islam dan mereka selain berdagang juga menyebarkan ajaran Islam di Pasai.

Pada masa sultan ini pula, kerajaan Perlak, yang merupakan tetangga Pasai, masuk menjadi wilayah kesultanan Samudera Pasai. Masa kejayaan ini berakhir ketika pada masa kekuasaan sultan berikutnya, kesultanan Samudera Pasai diserang oleh Kerajaan Majapahit. Pasai ditaklukkan dan menjadi salah satu wilayah Majapahit.

Kerajaan ini jatuh setelah diserang Portugis pada tahun 1521. Wilayahnya kemudian menjadi wilayah Kesultanan Aceh.

1. Dirham (Mata Udang Emas)

Peninggalan Kerajaan Samudra Pasai

Samudera Pasai mengeluarkan mata uang emas yang disebut dirham. Uang ini digunakan secara resmi di kerajaan tersebut. Uang dirham juga menjadi peninggalan kerajaan Samudra Pasai yang menandakan kekuatan ekonomi pada saat itu.

Pada satu sisi dirham atau mata uang emas itu tertulis; Muhammad Malik Al-Zahir. Sedangkan di sisi lainnya tercetak nama Al-Sultan Al-Adil. Diameter Dirham itu sekitar 10 mm dengan berat 0,60 gram dengan kadar emas 18 karat.

2. Cakra Donya

Peninggalan Kerajaan Samudra Pasai

Peninggalan Samudera Pasai yang berupa benda lainnya adalah Cakra Donya berbentuk lonceng. Lonceng Cakra Donya ada di dalam Museum Aceh, NAD . Lonceng ini merupakan salah satu koleksi museum tersebut.

Cakra Donya adalah sebuah lonceng yang berbentuk stupa buatan negeri Cina pada tahun 1409 M. Ukurannya tinggi 125cm sedangkan lebarnya 75cm. Pada bagian luar Cakra Donya terdapat beberapa hiasan serta simbol-simbol kombinasi aksara Cina dan Arab. Aksara Cina bertuliskan Sing Fang Niat Tong Juut Kat Yat Tjo, sedangkan aksara Arab sudah tidak terbaca lagi.

Pada bagian luar Cakra Donya terdapat sebuah hiasan dan simbol-simbol berbentuk aksara Arab dan Cina. Aksara Arab tidak dapat dibaca lagi karena telah aus. Sedangkan aksara Cina bertuliskan Sing Fang Niat Tong Juut Kat Yat Tjo (Sultan Sing Fa yang sudah dituang dalam bulan 12 dari tahun ke 5).

Intinya, Cakra Donya ini adalah sebuah lonceng impor. Cakra Donya sendiri merupakan hadiah dari kekaisaran Cina kepada Sultan Samudra Pasai. Kemudian hadiah lonceng ini dipindahkan ke Banda Aceh sejak portugis berhasil dikalahkan oleh Sultan Ali Mughayat Syah.

3. Naskah surat Sultan Zainal Abidin

Peninggalan Kerajaan Samudra Pasai

Naskah surat Sultan Zainal Abidin merupakan surat yang ditulis oleh Sultan Zainal Abidin sebelum meninggal pada tahun 1518 Masehi atau 923 Hijriah. Surat ini ditujukan kepada Kapitan Moran yang bertindak atas nama wakil Raja Portugis di India.

Surat ini ditulis menggunakan bahasa arab, isinya menjelaskan mengenai keadaan Kesultanan Samudera Pasai pada abad ke-16. Selain itu, dalam surat ini juga menggambarkan tentang keadaan terakhir yang dialami Kesultanan Samudera Pasai setelah bangsa Portugis berhasil menaklukkan Malaka pada tahun 1511 Masehi.

Nama-nama kerajaan atau negeri yang memiliki hubungan erat dengan Kesultanan Samudera pasai juga tertulis di dalamnya. Sehingga bisa diketahui pengejaan serta dan nama-nama kerajaan atau negeri tersebut. Adapun kerajaan atau negeri yang tertera dalam surat tersebut antara lain Negeri Mulaqat (Malaka) dan Fariyaman (Pariaman).

4. Stempel kerajaan

Peninggalan Kerajaan Samudra Pasai

Stempel ini diduga milik Sultan Muhamad Malikul Zahir yang merupakan Sultan Kedua Kerajaan Samudera Pasai. Dugaan tersebut dilontarkan oleh oleh tim peneliti sejarah kerajaan Islam. Stempel ini ditemukan di Desa Kuta Krueng, Kecamatan Samudera, Kabupaten Aceh Utara.

Stempel ini berukuran 2×1 centimeter, diperkirakan terbuat dari bahan sejenis tanduk hewan. Adapun kondisi stempel ketika ditemukan sudah patah pada bagian gagangnya. Ada pendapat yang mengatakan bahwa stempel ini sudah digunakan hingga masa pemerintahan pemimpin terakhir Kerajaan Samudera Pasai, yakni Sultan Zainal Abidin.

5. Batu Nisan

Umumnya peninggalan bersejarah Samudera Pasai berupa nisan bertuliskan kaligrafi arab gundul yang khas. (Mohamad Burhanuddin,2011).

6. Makam Sultan Malik as-Saleh

Peninggalan Kerajaan Samudra Pasai

Makam ini terletak di Desa Beuringin, Kec Samudera letaknya kurang lebih 17km sebelah timur kota Lhokseumawe. Makam Malik Al Saleh di Gedong Utara Aceh menjadi salah satu peninggalan kerajaan Samudera Pasai. Dilansir dari Indonesian Heritage (1996), Makam Malik Al-Saleh dengan angka 1297, adalah batu nisan tertua yang ditemukan

7. Makam Sultan Muhammad Malik Al- Zahir

Malik Al-Zahir adalah putera dari Malik Al- Saleh yang memimpin Kesultanan Samudera Pasai pada tahun 1287 sampai 1326M. letak makamnya bersebelahan dengan makam ayahnya Malik Al-Saleh.

8. Makam Teungku Sidi Abdullah Tajul Nillah

Makam ini merupakan peninggalan dari Dinasti Abbasiyah dan beliau merupakan cicit dari khalifah Al-Muntasir. Teungku Sidi mamangku jabatan Menteri Keuangan di samudra pasai. Makam terletak di Gampong Kuta Krueng, batu nisannya terbuat dari marmer dihiasi kaligrafi.

9. Makam Teungku Peuet Ploh Peuet

Di komplek terdapat makam 44 orang ulama dari Kesultanan Samudera Pasai yang dibunuh karena mengharamkan pernikahan raja dengan putri kandungnya. Makam ini terletak di Gampong Beuringen Kec Samudera. Pada nisan tersebut juga bertuliskan kaligrafi surat Ali Imran ayat 18.

10. Makam Ratu Al-Aqla (Nur Ilah)

Ratu Al-Aqla atau Nur Ilah Adalah puteri Sultan Muhammad Malikul Dhahir, Makam ini terletak di Gampong Meunje Tujoh Keca Matangkuli. Batu nisannya berhiasakan kaligrafi berbahasa Kawi dan Arab.

Nah, itulah bukti peninggalan kerajaan samudera pasai yang memang sebagian besar adalah berupa makan raja-raja atau pemimpin kerajaan samudera pasai. Demikian artikel yang dapat saya bagikan mengenai peninggalan kerajaan pasal dan semoga bermanfaat.

Referensi: (satujam.com, jagosejarah.blogspot.com, Brainly.co.id)

Poer
Poer Nothingツ
Poer Nothingツ

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *